


Menyambut Ramadhan ini, Masjid At-Taqwa IV mengadakan Tarhib Ramadhan bertepat tanggal 15 Februari 2026. “Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menambah dan menimba ilmu, sekaligus mempererat tali silaturahim diantara kita, dan memperkuat Keislaman, Keimanan, dan Ketaqwaan kita semua”, ujar Ibu Nurmala selaku Ketua Majelis Ta’lim gabungan At-Taqwa IV. Tarhib Ramadhan ini juga sebagai takbir akbar dan juga penutupan sementara pengajian ibu-ibu Majelis Ta’lim selama bulan Ramadhan.
Antusias warga pamulang atas acara ini tinggi mengingat aula dan pelataran masjid sudah penuh 3 jam sebelum acara utama dimulai. Acara diiringi dengan hadrah, shalawat dan juga bazaar UMKM sebelum pembawa acara membuka acara ini. Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an beserta artinya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan santunan kepada Yatim dan Dhuafa. Pada kesempatan ini Masjid At-Taqwa IV menyalurkan 147 paket santunan kepada Yatim dan Dhuafa di sekitar masjid. Acara dilanjutkan dengan tadarus bersama sembari menunggu Mama Dedeh tiba.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ( البقرة/2: 183)
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah/2:183)
Bertaqwa secara bahasa artinya berlindung. Arti secara istilah adalah mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Taqwa secara syariat agama islam diartikan nama dari kumpulan simpul-simpul keagamaan yang mencakup ilmu pengetahuan, kesabaran, kesadaran, keikhlasan, persamaan manusia dan kelemahan manusia dihadapan Allah SWT.
Simpul taqwa yang pertama adalah ilmu pengetahuan. Siapapun yang mau bahagia baik di dunia dan di akhirat maka membutuhkan ilmu. Dunia dan akhirat adalah suatu perjalanan hidup yang sudah digariskan, maka sewajibnya bagi kita memiliki ilmu dunia dan akhirat agar bahagia di dunia dan akhirat. Sebagaimana ucapan yang cukup terkenal, “Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139).
Simpul taqwa kedua adalah sabar. Orang taqwa harus sabar karena setiap orang pasti mendapatkan ujian. Bahwa selama hidup di dunia kita pasti akan mendapatkan ujian dari Allah, baik itu ujian lapar, harta, jiwa, maupun makanan. Maka penting bagi orang bertaqwa untuk senantiasa bersabar dan berserah kepada Allah.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ البقرة/2: 155-156
Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (Al-Baqarah/2:155-156)
Menurut Mama Dedeh, orang berpuasa itu ada 3 tingkatan. Tingkatan pertama adalah umum, yakni orang yang puasa dengan tidak makan, tidak minum dan tidak bercampur suami istri. Sebagaimana hadits dari Ibnu Majah dan Nasa’I “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”
Tingkatan kedua adalah khusus, yakni orang yang berpuasa tidak makan, tidak minum, tidak bercampur dan seluruh tubuh ikut berpuasa dari yang syubhat. Tidak jarang kita berpuasa, tapi mata kita sering melirik hal-hal yang tidak pantas. Tangan kita melakukan tindakan yang tidak terpuji. Kaki juga telinga kita digunakan tidak menuju pada amalan yang baik. Karena sesuatu yang syubhat itu menghalangi terkabulnya doa.
Tingkatan ketiga adalah orang yang berpuasa tidak makan, tidak minum, tidak bercampur dan seluruh tubuh ikut berpuasa dari yang syubhat, dan tidak memenuhi perutnya dengan makanan halal. Maksud dari tidak memenuhi perutnya dengan makanan halal adalah agar seseorang tidak makan sampai kenyang. Sebagaimana anjuran Rasul bahwa seorang muslim sebaiknya makan sebelum ia lapar dan berhenti sebelum ia kenyang. Nabi juga mengajarkan agar isi perut ini diisi sepertiganya adalah makanan, sepertiganya itu air dan sepertiganya adalah uadara agar kita senantiasa sehat.
Terdapat 5 dampak negatif dari perut yang kekenyangan. Pertama adalah ketaqwaan yang berkurang disebabkan karena rasa malas yang sering muncul karena kenyang. Kedua, kasih sayang dengan tetangga yang kurang, karena seringkali orang kekenyangan, tingkat kepedulian sosialnya berkurang. Ketiga, Jika dia seorang guru maka ilmunya tidak tersampaikan karena ucapan dari kepalanya terhalangi oleh kekenyangan dari perut. Keempat, jika dia murid, maka terhalangnya ilmu masuk kedalamnya karena kekenyangan yang seringkali membawa kantuk. Kelima, kekenyangan membuat kita mudah terkena penyakit.
Alhamdulillah acara Tarhib Ramadan ini dapat dikatakan berjalan lancar. Acara ini sangat interaktif karena Mama Dedeh sering meminta Jamaah secara bergantian membacakan ayat suci Al-Quran sesuai bahasan materinya. Mama Dedeh selaku pemateri juga tidak jarang menegur jamaah yang merugikan jamaah lain seperti berdiri di pintu yang menghalangi dan penggunaan gawai tidak semestinya. Beliau juga menjawab beragam puluhan pertanyaan dari jamaah, mulai dari pertanyaan urusan puasa, zakat, fiqih, rumah tangga dan lain sebagainya. Acara diakhiri dengan doa penutup oleh Mama Dedeh dan foto bersama.






Leave a Reply