
Ramadan telah usai dan kita memasuki bulan ke sepuluh dalam kalender Hijriah yaitu bulan Syawal. Bulan Syawal diawali tanggal 1 Syawal dan dirayakan dengan hari raya Idul Fitri. Idul Fitri menjadi salah satu dari dua hari raya dalam umat Islam. Pada hari Idul Fitri ini umat Islam dianjurkan untuk mengumandangkan takbir dari tenggelamnya matahari hingga salat Idul Fitri. Takbir yang diucapkan baik itu di masjid, di rumah, maupun di perjalanan sebagai bentuk zikir Maha Besar Allah SWT dan kemenangan pribadi setelah menempa diri di 30 hari bulan Ramadan.
Umat Islam di Indonesia pada khususnya memiliki tradisi silaturahmi di bulan Syawal. Idul Fitri dijadikan momen khusus berkumpul keluarga besar, khususnya di rumah kedua orang tua. Waktu ini adalah waktu yang tepat untuk kembali mempererat tali persaudaraan sesama keluarga dengan saling meminta maaf atas kesalahan, saling bertanya kabar, saling mendoakan antara anak dan orang tua dan juga kerabat. Oleh karenanya sering kali kita ucapkan minal aidzin wal faidzin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan meraih kemenangan), mohon maaf lahir dan batin.
Tradisi silaturahmi ini sangat baik untuk dilakukan terus menerus. Hal ini karena silaturahmi dapat menambah rezeki dan memperpanjang umur sebagaimana hadits Nabi:
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR Bukhari & Muslim)
Selain silaturahmi, beberapa amalan utama di bulan Syawal untuk melanjutkan semangat ibadah Ramadan adalah berpuasa 6 hari di bulan Syawal dan juga berpuasa pada ayyamul bidh. Anjuran ini sesuai dengan hadits:
“Barang siapa berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan pusa enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
“Rasulullah SAW berpesan kepadaku tiga hal yang aku tak pernah meninggalkannya sampai aku mati, yaitu berpuasa setiap tiga hari di setiap bulan, mengerjakan dua rakaat shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadan adalah setara dengan puasa sepanjang tahun. Waktu dilakukan puasa ini dapat dilakukan pada hari-hari di bulan Syawal kecuali tanggal 1. Baik itu dilakukan secara berurutan, dilakukan bersamaan dengan puasa Senin-Kamis, atau dilakukan terpisah, keseluruhan cara ini dibenarkan oleh para ahli fiqih. Namun alangkah baiknya bagi yang masih memiliki hutang berpuasa untuk melunasi hutangnya terlebih dahulu barulah melaksanakan puasa sunnah Syawal.
Semoga bulan Syawal ini dengan beragam amalan sunnahnya dapat melanjutkan dan menjaga semangat ibadah dan taqwa sebagaimana yang kita lakukan di bulan Ramadan. Melakukan tindakan terpuji tentu tidak terlepas dari waktu-waktu tertentu, karena tindakan terpuji yang paling baik adalah yang dilakukan dengan segera. Semoga Allah senantiasa menjaga taqwa kita dan memberkahi kita di bulan Syawal ini serta mempertemukan kita kembali di Bulan Ramadan di tahun depan. Amin.






Leave a Reply